Vol. 25 The Jakarta Series - Kota Tua
Kode produk: VPV25250005
( 0 ulasan )
Rp261,000Rp275,000
Perlahan langkah kakiku melambat, ragu sekaligus terpukau, tujuan dari perjalanan ini adalah Taman Fatahillah. Sebuah alun-alun terbuka yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan megah arsitektur kolonial Belanda. Di tengah alun-alun, berdiri kokoh gedung Museum Sejarah Jakarta (Museum Fatahillah) yang dulunya merupakan Stadhuis—Balai Kota Batavia yang merupakan pusat syaraf dari sebuah imperium dagang terbesar di dunia pada masanya. Melihat dinding putihnya yang tinggi dan jendela kayu yang besar, mudah bagi kita untuk membayangkan bagaimana kesibukan pusat pemerintahan ratusan tahun lalu.
.
Setelah Jan Pieterszoon Coen membumihanguskan Jayakarta pada tahun 1619, VOC mulai membangun kota baru dengan arsitektur Belanda yang dinamakan Batavia. Gubernur Jenderal Pieter de Carpentier kemudian memerintahkan pembangunan Balai Kota pertama pada tahun 1626 di lokasi yang sekarang menjadi Lapangan Fatahillah, dan pada tahun 1707, di bawah pemerintahan Gubernur Jenderal Joan van Hoorn, bangunan lama dibongkar total dan dimulailah pembangunan gedung Stadhuis yang berdiri megah hingga hari ini. Pembangunannya selesai pada 10 Juli 1710 di masa Gubernur Jenderal Abraham van Riebeeck. Arsitektur Balai Kota Batavia dirancang menyerupai Palace on the Dam (Istana Kerajaan) di Amsterdam. Bangunan ini mengusung gaya neoklasik abad ke-17.
.
Pada tahun 1970-an, Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, melihat nilai sejarah yang luar biasa dari bangunan yang mulai merapuh ini. Ia memprakarsai pemugaran besar-besaran kawasan Batavia Lama. Pada tanggal 30 Maret 1974, Ali Sadikin secara resmi meresmikan bekas Balai Kota Batavia ini sebagai Museum Sejarah Jakarta. Kota Tua bukan sekadar deretan bangunan kuno yang estetik untuk berfoto bahkan sebagai ruang waktu yang mempertemukan kita dengan akar sejarah Jakarta.
Order via: