+

Vol. 25 The Jakarta Series - Sunda Kelapa

Kode produk: VPV25250001
      ( 0 ulasan )
Rp275,000

Pelabuhan ini merupakan urat nadi bagi Kerajaan Sunda (Pajajaran) pada abad ke-12. Di sinilah, kapal-kapal dari Tiongkok, India, Arab, hingga wilayah Nusantara lainnya merapat. Dermaga ini adalah tempat sibuk di mana lada, rempah yang lebih berharga dari emas pada masanya, ditukar dengan kain sutra yang halus dan keramik yang indah. Suasana pelabuhan kala itu dipenuhi oleh sahutan berbagai bahasa dunia, menciptakan simfoni perdagangan yang mengundang decak kagum sekaligus ketamakan bangsa-bangsa Eropa. Dinding kayu dermaga ini menjadi saksi ketika armada Portugis datang pada awal abad ke-16 untuk mengikat perjanjian dagang. Namun, takdir pelabuhan ini berubah drastis pada tanggal 22 Juni 1527. Pasukan Demak-Cirebon di bawah pimpinan Fatahillah merebut tempat ini dari pengaruh Portugis, lalu membakar sisa-sisa masa lalu untuk mendirikan kota baru di atas tanah yang basah ini: Jayakarta, kota kemenangan. Di sinilah nama resmi kota Jakarta bermula. . Kemudian VOC datang beberapa dekade setelahnya di bawah Jan Pieterszoon Coen, mereka mengubah wajah pelabuhan ini menjadi benteng perdagangan, menamainya Pasar Ikan dan memusatkan seluruh jalur rempah dunia ke dermaga yang kini kita kenal sebagai bagian dari kawasan Batavia Lama. Pelabuhan Batavia adalah titik temu (entrepôt) bagi seluruh jalur dagang VOC di Asia. Hukum monopoli Belanda memaksa setiap kapal yang mengangkut komoditas berharga—mulai dari pala dan cengkih dari Maluku, lada dari Sumatra, hingga teh dan sutra dari Tiongkok—untuk merapat dan membongkar muatannya di sini terlebih dahulu. Di sepanjang dermaga, karung-karung pala dan kayu manis ditumpuk di dalam gudang-gudang besar (yang kini menjadi Museum Bahari) sebelum diangkut oleh kapal-kapal besar Retourschepen menuju Amsterdam. Pelabuhan ini adalah alasan mengapa VOC sempat menjadi perusahaan terkaya dalam sejarah dunia. . Pelabuhan Sunda Kelapa juga berfungsi sebagai tempat perawatan armada-armada kecil VOC. Di sekitar muara sungai Ciliwung ini, Belanda mendirikan bengkel-bengkel kayu untuk memperbaiki sekoci, memproduksi dayung, dan menambal lambung perahu-perahu transit yang bocor. Pelabuhan seperti mesin logistik yang efisien di bawah kuasa Belanda, perpaduan antara ambisi ekonomi yang jenius dan sistem kolonial yang eksploitatif. Ia adalah tempat di mana tali-tali sauh ditarik, membawa pergi kekayaan alam Nusantara, sekaligus mengikat takdir Jakarta sebagai kota kosmopolitan di masa depan.

Order via:
Deskripsi

Scarf printing cantik dengan desain exlusive khas merajukisah. Berbahan high quality voal ultra-fine, dengan hand feel yang sangat lembut, breathable dan mudah dibentuk, menjadikan teman Kisah tampil cantik dan elegan dengan ukuran syar'i

Spesifikasi

Size syari: • Printing scarf Size 145x145cm Price IDR 275,000 • Printing scarf Size 130x130cm Price IDR 269,000 Material: Voal ultrafine Packaging: Box/Pouch Tolerasi lasercut 4cm Terdapat sedikit perbedaan warna karena faktor cahaya dan kamera

Belum ada ulasan untuk produk ini.

Vol. 15 Discover Egypt (Extended) - Dahab
     
Rp275,000
Vol. 5.0 Discover Egypt - Cairo
     
Rp275,000
Vol. 24 Spring in Korea - Gamcheon Culture Village
     
Rp235,000Rp275,000
Monogram - Mono Scarf Maroon
     
Rp225,000
+